Oh DEWA keSAKTIan mu Menggugah hati kita …


Wow … surprise !!

Setelah sekian lamanya nunggu sinetron yang dimainkan sama Dude dan Nay, akhirnya semalem 3 Oktober 2011 mereka nongol lagi dilayar televisi kita tentunya di RCTI OKeh dunk 😉

Mereka main bareng di dalam sinetron yang berjudul DEWA, ga hanya mereka berdua sih … tapi mereka juga beradu akting sama Baim Wong, Arifin Putra, Aura kasih, Alice Norin, Fero Malandouw, Umar Lubis, Minati Atmanegara, Cindy Fatikasari, Tengku Firmansyah, Ponco Buwono, Cut Keke, Mona Ratuliu, Fery Irawan, Wiwid Gunawan dan … masih banyak lagi yang lain 🙂

Sekarang kita akan coba sedikit mereview crita sinetron DEWA tadi malem, kalo ga salah episode 1 dan 2 yak ?? hmm … lumayan bikin mata, telinga dan mulut menganga 😀 .  Gimana kagak gitu … alurnya yang lumayan cepet buat ngejelasin asal usul karakternya ituh, bikin mata (khususnya mata gw 😀 ) tak berkedip sambil otak berusaha mengingat setiap karakternya 😀 (kayak mau ujian listening 😀 ).  Nah lo … mulai deh OOT yang ngarang ilustrasi !! *lirik2 bu momod

Wokeh kita coba review !!

Naysilla Mirdad

Naysilla Mirdad sebagai Dewa, bernama asli Kania, namun dibesarkan sebagai anak laki-laki dari bapak ibu angkatnya yang anak laki-lakinya telah meninggal dunia. Jatuh cinta pada Tama.

Dewa (Naysilla Mirdad ) yang nama aslinya Kania adalah anak dari Bapak Edy (Ponco Buwono) yang ditinggalkan oleh ayahnya dan dititipkan pada ibu Wiwik (Cut Keke) , Ibu Wiwik sendiri mempunyai anak laki-laki yang bernama  RAP (Ryan Andika Pratama ) atau disingkat Tama (Baim Wong ) selalu menghibur Kania dengan caranya yang khas.

Dude Harlino sebagai Sakti, sopir keluarga Dewa yang sangat sayang pada Dewa sejak kecil. dan selalu melindungi Dewa

Baim Wong sebagai Tama, teman Dewa diwaktu kecil,terpisah lama,tinggal bersama ayah kandungnya dan seorang kakak bernama Yuda. Mencintai Diandra

Suatu hari .. Kania yang saat itu tengah mengejar ayahnya ditemukan oleh keluarga mama Gita (Cindy Fatikasari) dan papa Ruslan ( Tengku Firmansyah) yang anak laki-lakinya baru saja meninggal, karena begitu depresi kehilangan anak semata wayangnya, Kania pun diangkat anak oleh mereka dan berganti nama menjadi Dewa serta dijadikan seperti anak laki-laki.  Tidak lama setelah itu, keluarga Dewa menemukan Diandra (Aura Kasih) yang kehilangan ibunya karena tertabrak mobil.  Diandra pun diangkat anak oleh keluarga ini.

Aura Kasih sebagai Diandra, meskipun tidak ada ikatan darah, Dewa dan Diandra saling menyayangi, ditunangkan degan Yuda namun mencintai Tama

Di lain pihak .. Cut Keke yang sakit-sakitan akhirnya menyerahkan anaknya pada mantan suaminya Pak Bondan (Umar Lubis) yang juga mempunyai anak laki-laki lain yang bernama Yuda (Arifin Putra).

 

 

Dewa sejak kecil akrab sekali dengan Sakti (Dude Harlino) anak dari Mama Dini (Mona Ratuliu) dan ternyata Mama Dini  adalah wanita lainnya Papa Ruslan.  Sakti sendiri bekerja sebagai sopir pribadi di keluarga Dewa.

Diandra dijodohkan dengan Yuda anak dari pak Bondan, akan tetapi Diandra sepertinya tertarik pada Tama yang tak lain adalah adik dari Yuda yang secara tidak sengaja bertemu dengannya di pesta pergelaran busana, Diandra adalah seorang model.

Arifin Putra

Arifin Putra sebagai Yuda, kakak Tama ditunangkan dengan Diandra namun pertunangan ini dimaksudkan hanya untuk kelancaran bisnis keluarga.

Yuda sendiri dulu pernah berpacaran dengan Yola (Alice Norin) yang tidak sengaja kembali bertemu sewaktu Yudha dan Diandra makan siang di restoran .. !! Yola adalah anak dari mama Rindu  (Minati Atmanegara) & papa Vino (Feri Irawan) dan mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Rian (Fero Walandouw ), Rian yang tidak sengaja bertemu dengan Dewa dijalan ketika sedang mengambil foto sepertinya tertarik dengan tingkah laku dewa yang seperti anak laki-laki.

Alice Norin sebagai Yola, masa kecil dibesarkan bersama Diandra, setelah dewasa mereka tidak saling mengenal. Yola sangat menyukai Yudha.

Secara tidak sengaja Dewa kembali dipertemukan dengan ayah kandungnya , ketika sang ayah hendak merampok Diandra kakaknya, Dewa pun selalu aja membela sang ayah ..  ketika sang ayah terlibat masalah dengan keluarganya !! Hal itu membuat sakti sedikit curiga dengan kelakuan Dewa, Sakti sendiri ternyata diam-diam  menyukai Dewa tanpa disadari oleh Dewa 😀 (lirik2 mupengers :P)

Fero Walandouw

Fero Walandouw sebagai Rian, Seorang fotografer muda adik dari Yola *wink wink wink wink wink wink wink*

Kayaknya untuk sementara baru itu aja yang bisa diambil dari episode yang ditayangkan semalem … :), selanjutnya kita nantikan perkembangan dari cerita ini !! Apakah yang akan terjadi pada kehidupan Dewa,Diandra,Yola,Sakti,Tama,Yudha dan Rian selanjutnya ??

Okey … Let and See !!

Ga lupa juga kita ucapkan terima kasih buat sinemart dan seluruh Tim pendukung dalam sinetron ini … karena kalian telah mengabulkan keinginan dan kerinduan kita untuk menyaksikan duet akting aktor dan artis kesayangan kita Dude dan Naysilla 🙂

Cayoo Sinetron Dewa … !!!! 

 

 

 

 

Kisah Kania kecil menjadi Dewa, ini Scene yang touching banget!!

Theme Song Sinetron Dewa dinyanyikan oleh Letto – Cinta Bersabarlah

Kupercaya Cinta itu Indah

Advertisements

EpisoDe KeNaNGan SiNetron InTan Part.2


  1. Intan Ep 150 P1 (Rado buta)
  2. Intan Ep 156 P6 (RaIn balikan. karena Intan tak bisa hidup tanpa Rado)
  3. Intan Ep 157 P1 (Intan buatin Rado kue yang bentuknya mirip wajah Rado. Ardi mintan Intan tuk panggil dia “Papa”)
  4. Intan Ep 157 P6 (Rado bilang bener kalo dia yg bunuh Rangga. tp Intan blg enggak)
  5. Intan Ep 158 P2 (Rado bayangin wkt sm Intan. trs pas di dokter, dokter blg klo blm ada donor mata yg pas. Pas Rado jelasin itu ke Intan, Intan gk peduli Rado kyk gmn yg penting jgn ninggalin dy)
  6. Intan Ep 159 P4 (Rado yg nunggu Intan di resto, trnyta Resto kebakaran)
  7. Intan Ep 163 P4 (Intan nyangka Aditya itu Rado)
  8. Intan Ep 164 P1 (Aditya kerja sama dgn Dewa. Intan bayangin Rado dan Aditya)
  9. Intan Ep 165 P5 (Aditya godain Intan)
  10. Intan Ep 172 P1 (Intan beli kalung yg jika di pakai oleh pasangan, cintanya akan abadi. kebetulan yg beli kalung satunya itu Aditya)
  11. Intan Ep 172 P2 (Aditya kepikiran Intan. dia mikirin Intan. trs dia ke kantornya Intan. Pas mereka ketemu Intan kepleset)
  12. Intan Ep 172 P4 (Dewa ngajak Intan ke pestanya. saat itu Aditya jd fotografernya. Aditya gk rela liat Intan dipeluk Dewa. di rumah pas dy buka2 foto2 Intan yg dijepretnya dia liat kalung Intan yg sm dg dia, dia bilng “Kalo gue sama Intan berpasangan berarti cinta kita abadi donk)
  13. Intan Ep 173 P2 (Aditya ketemu Shelly. dan Shelly nyebut Aditya itu “Papa”)
  14. Intan Ep 173 P5 (Shelly ingin mama dan papanya ketemu. wkt nunggu Intan dan Aditya, dia lihat kakaknya dan ngejar. saat Shelly pergi dy nunggu Shelly dan papanya Intan liatin kalungnya, tiba2 Aditya datang dan bilang “kalungnya bagus”. Intan mikir kalo dia itu Rado. dipeluklah Aditya itu)
  15. Intan Ep 176 P1 (Intan keinget Rado saat Dewa nyelipin bunga di rambutnya. Aditya menjalani perannya sebagai Rado)
  16. Intan Ep 176 P2 (Aditya ke makam Rado, Rangga, Ello, dan nenek. pas Intan nunjukin foto nenek, Rado inget mimpinya. pulangnya pas Rado tidur dia mimpi nenek, nenek berpesan untuk menjaga Intan)
  17. Intan Ep 176 P6 (Rossa kasih Aditya kue yg bentuknya mirip wajah Aditya. trs Intan nelpon Aditya tuk diajak piknik brg keluarganya. saat piknik itu Rossa liat Aditya yg berpura2 jd Rado)
  18. Intan Ep 177 P6 (Intan yg mo pindah coba dicegah oelh Aditya tp Intan blg klo yg cegah dy Rado, dy pst gk akan pergi)
  19. Intan Ep 178 P3 (Pasar yg terdapat Aditya Intan kebakaran. Aditya mulai merasakan apa yg terjad di waktu lampau)
  20. Intan Ep 178 P4 (Aditya yg sadar dr pingsanny lgsg meluk Intan. Rossa cemburu dan keluar ruangan. Aditya meluk Intan saat itu karena Aditya itu Rado)
  21. Intan Ep 180 P6 (Rado yg coba beritahu Intan klo dy bukan Aditya, terpaksa gk jadi krn saat itu Rosa sakit)
  22. Intan Ep 181 P7 (Rado jujur ke Ardi klo dia bukan Aditya tp Rado)
  23. Intan Ep 182 P1 (Gempa bumi)
  24. Intan Ep 182 P2 (Rossa meninggal. tp Rado berhasil jelasin klo dia itu Rado bkn Aditya)
  25. episode 182 dan 183 buat aku harus download semua partnya karena penting.
written by  : Ria Ria NaBloPoMo 29 Agustus 2009

Bookmark and Share

Future KTT : Script Sinet DuNay


Setting 1 : Malam Gala Lelang Kreasi Di Gedung Kesenian …

“Kak!’ sentakan lembut dibahu cukup membuat Naya tersadar dari pesona Dudee, dan menemukan Naira sudah disampingnya. ‘siapa dia kak?’ …hmmm rupanya ia memperhatikan. “Siapa yang engkau maksud?” Dengan tenang sambil sedikit mengibaskan rambutnya yang legam panjang menatap Naira. “Bukan seperti yang engkau bayangkan. Aku merasa seperti pernah mengenalnya, tapi tidak yakin juga dimana. Sudahlah. Lebih baik kita masuk dan mempersiapkan acara”, Naya mengalihkan perhatian. Tersenyum menatap Naira, dirangkulnya bahu adiknya itu dan berdua mereka berlalu dari pandangan Dudee. Naira rupanya masih penasaran, dipalingkannya sedikit kepalanya untuk menengok ke belakang. Pria tampan itu masih disana! Dan masih tetap memandang mereka. Tersenyum misterius, Naira memalingkan muka dan berusaha sedikit mencuri melihat raut wajah kakaknya. What a surprised! There must be something happened between my sister and that handsome man. But she looks as cool as if nothing happened.
Naya dan Naira disibukkan oleh acara lelang. Acara boleh dibilang sukses; para undangan banyak yang hadir dan satu persatu hasil karya yang masuk daftar lelang berhasil meraih angka berarti untuk disumbangan bagi korban bencana alam. Selama acara itu berlangsung, Naya tidak sempat lagi menyapu pandangannya ke satu persatu para undangan. Pun tidak diketahuinya ketika Dudee mengamatinya dari kejauhan …mata tajam itu masih terus begitu pun ketika Naya lama mengamati lukisannya sebelum akhirnya dilelang. Arrghhh, aku tidak mampu menghapus sosok indah itu dalam bayangan. Melupakan. Betapapun aku berusaha. Berapa tahun lamanya kah itu? Ingatan Dudee melayang ke masa lalu mereka yang cukup indah dan menyenangkan. Indah. Sebelum semuanya harus diakhiri dengan kebodohannya!.

Setting 2 : Kampus. Gedung terlihat megah dan baru dipulas cat.

Jam pergantian kuliah. Nampak jelas kesibukan kampus … semuanya serba bergegas, keluar masuk ruang kuliah, ruang dosen, ruang administrasi. Lapangan luas yang terletak di tengah gedung menjadi ajang hiburan mereka yang berlalu lalang di koridor. Sekilas saja menoleh ke lapangan, tapi tetap masing masing menyibukkan diri dengan urusannya. Termasuk Naya. Ia nampak bergegas menuju gerbang kampus. Ibu Pratiwi mungkin sudah masuk ruang kuliah. Sudah terlambat, tapi tidak mengapa. Tersenyum mengingat-ingat pertemuan terakhir dengan Dosen wanita favoritnya. Sangat menyenangkan berkesempaan dibimbing oleh Dosen pembimbing yang terkenal tegas di kampus dan ia merasa istimewa dalam bimbingannya. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan mendapatkan penjelasan lebih detil lagi tentang penulisan tugas akhirnya. Ini untuk yang terakhir! Baru saja ayunan langkahnya menapak gerbang kampus ketika didengarnya suara memanggil…
“Naya ….Nay” … benar!. Ada yang memanggil. Naya berhenti. Berputar kearah datangnya suara, ia mendapati raut wajah sama yang menatapnya di malam Gala seminggu lalu.
“eee …yaaa? kamu memanggil saya?” (ugghh, terlalu basa basi, jelas hanya ada satu Naya di kampus, siapa lagi yang dia maksudkan).


“Ya. Engkau, sudah tidak ingat lagikah padaku? Oke, aku agaknya perlu mengenalkan diri lagi. Kenalkan, aku Dudee. Setelah melihatmu kembali di malam Gala itu, aku tidak dapat memejamkan mataku demi mengingatmu kembali. Sudah lama, bukan? Sejak pertemuan terakhir kita di acara perpisahan Kelas VI sekolah dasar dulu. Tunggu. Jangan potong dulu kata-kataku. Jujur, aku kangen masa masa itu. Aku masih tetap bisa mengenalimu. Meski engkau kini berubah. Apa khabar, Naya?”
diulurkannya tangan kanan Dudee untuk berjabat tangan … Naya, setengah sadar mendengarkan penjelasan panjang sehingga tidak ingat sedang dalam pengamatan mata yang tajam … reflek, ia mengulurkan tangan untuk menerima jabat tangan Dudee, sambil berusaha mengingat-ingat …. Dudee … Dudee … Semburat merah meronakan pipinya diingatkan oleh masa-masa indah mereka dulu.

Haruskah sekarang aku malu? Dulupun tidak. Dulu aku pernah begitu bersemangat menyatakan betapa aku mencintainya …hahaha. Hal yang berlebihan, mengingat dulu mereka selalu bersama. Entah mengapa, mungkin terbawa suasana perpisahan, ucapan itu mengalir begitu saja. Sudah bertahun lalu, tentu dia tidak akan mengingat-ingat hal itu lagi. Kini diamatinya Dudee … Ternyata Dudee sudah banyak berubah. Makin tenang, meskipun terkesan cuek. Rambutnya yang dulu ikal kini masih tetap, hanya dibiarkannya panjang. Pantas saja aku tidak mengenalinya.

“Engkau semakin manis …lebih manis dari yang pernah ada dalam bayangan samarku” Dudee berkomentar dengan mata memincing menggoda. Tertegun dengan sanjungan yang ia tidak pernah duga akan terujar dari bibir yang merah (hmmm, kepemilikan indah yang salah kukira). Tersadar akan dirinya yang masih terpana dalam situasi yang tak terduga itu …“Ah, hi … sudah lama ya … maaf aku tidak sempat menemuimu di malam itu. Aku begitu sibuk. aku baik-baik saja, seperti yang engkau lihat ini”. Dilepaskan genggaman tangan yang mulai menghangat. Entah sudah berapa lama mereka berjabatan tangan. Pernah sekali dulu ia begitu yakin Dudee akan membalas cintanya …hehehe …cinta monyet yah … kali ini, mereka sudah bertumbuh dewasa… Ia tidak ingin membuat Dudee salah mengerti kali ini. “Apa khabar?” Ujarnya memantapkan diri dengan menatap ramah ke Dude. Senyum Dudee mengembang “baik juga, seperti yang terlihat …. nampaknya engkau tergesa-gesa. Aku tidak akan berusaha menahan.Bagaimana kalau engkau selesaikan dulu urusan kampus, aku akan menunggu di café itu? Bolehkah?” Matanya yang tajam menatap dalam tepat pada retina Naya. Tidak perlu menunggu lama, Naya mengangguk setuju. “Baiklah. Aku memang ada materi kuliah penting siang ini yang tidak boleh kulewatkan dan memang tidak mungkin aku lewatkan. Tidak mengapa bila menunggu lama … mungkin akan sekitar 1.5 jam?”
“Oh, tidak masalah …terima kasih sudah bersedia memberiku waktu. Nah, sekarang, engkau bergegaslah”… saling melempar senyum keramahan, Naya kemudian berbalik, menuju ruang kuliah. Ia tidak berusaha menengok ke belakang. Tapi ia yakin, Dudee sedang mengawasinya.
Di dalam ruang kuliah, meskipun konsentrasi penuh ditujukan pada Ibu Pratiwi, entah kenapa …Naya merasakan semangatnya berlipat. Di cafe, Dudee asiiik membuat sketsa pinsil di selembar kertas putih dengan jemarinya yang nampak cukup piawai menari-nari, membentuk sosok perempuan.

Setting 3 : Sanggar.

Setelah 2 kali mengetuk pintu tanpa ada jawab, Lara berusaha menekan handle pintu sanggar ketika pada saat bersamaan pintu terkuak lebar. Badannya sedikit terhuyung ke sisi dalam sanggar dan hampir saja terjerembab kalau Dudee tidak segera menahan …’kak dudeeeee…’ teriak Lara terkejut ‘. ’makanya jangan asal buka!’ sembur Dudee, cengir kemenangan menguak. ’Sudah. Aku sudah mengetuk pintu. Kupingmu itu kak yang perlu dikail, mungkin … aku sudah ketuk dua kali malah…’ masih kaget, Lara berjengkit. ‘oh, benarkah??!’ atau kau memang sengaja?’ dipandanginya mata terkejut Lara mempertanyakan, serius. Kebiasaan Lara ia sudah hapal benar. Usil. Tapi kemudian dilihatnya mata Lara benar-benar serius kali ini. ‘Ada apa, ayo cepat katakan…aku tidak punya cukup waktu…aku ditunggu’ … sambil berjalan masuk ke rumah utama. ‘oh, nggak ada yang penting deh’ … Lara berbalik dan masuk ke kamarnya. Dudee Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala demi melihat tingkah adik perempuannya.

Setting 4 : Taman Terbuka di kompleks.

Letaknya tidak begitu jauh dari pintu gerbang keluar kompleks tempat Naya tinggal. Sore-sore selalu mengundang pengunjung untuk menikmati suasana menjelang malam. Dari setiap sudut letaknya yang cukup tinggi, semua mata berusaha memanja menikmati matahari senja. Indah, warna lembayung terpancar dari matahari senja yang sedikit berusaha meredupkan sinarannya. Meskipun tidak biasanya datang ke tempat ini, kali ini Dudee berusaha memenuhi permintaan Naya, janji bertemu di taman. Seminggu telah lewat sejak pertemuan pertama mereka di cafe campus. Mereka begitu lebur dalam kisah masa lalu dan saling bercerita tentang kegiatan mereka masing masing selama berpisah begitu lama. Kini, ada sesuatu yang harus Dudee tuntaskan nampaknya, karena mendadak, ia kirim pesan singkat ke Naya untuk menemuinya sore ini di taman.
”Hi … sudah menunggu lama?”
”Oh, hi … hmmm lumayan. Tapi engkau tidak perlu cemas, aku pandai menyibukkan diri. Lihatlah, aku baik-baik saja dannnn tetap tampan, bukan?”, jawab Dudee sambil berdiri dari duduknya. Dipersilahkannya Naya duduk di bangku putih, bangku taman yang banyak dipasang permanen (demi menghindari pencurian ya … hahaha).
”Ugghh … GR-nya. Siapa yang bilang tidak?” pungkas Naya, sambil membungkuk berusaha duduk, tapi kemudian ragu, karena kertas putih yang semestinya menjadi alas duduk membuka sedikit, tertiup angin. Penasaran, diambilnya kertas itu dan dibukanya lebar-lebar. Terkejut. Skesta dirinya sedang asiik dalam pose sedikit menyamping, serius memandang ke suatu arah. Dipalingkannya pandangan dari skesta ke Dudee. ”Inikah sesuatu yang engkau maksud”, penasaran Naya dengan janji Dudee dalam pesan singkat. ”Oh, bukannnn …bukan ini. Ini aku buat sambil menunggumu datang. Engkau boleh menyimpannya bila suka, tapi kini tidak ada lagi kertas untukmu mengalasi bangku itu”.
”Tidak mengapa, aku simpan ini, engkau memang terlalu … ini bagus, kenapa harus dibuat alas duduk. Meskipun engkau mudah saja membuat lagi.” ujar Naya sambil memandang Dudee, kemudian dialihkan lagi ke sketsa. Naya kemudian duduk. Dudee masih tetap berdiri. Diraihnya tangan kanan Naya untuk membuatnya berdiri kembali. ”Ada yang ingin kuperlihatkan. Tapi tidak disini”. Masih menggenggam tangan Naya, Dude mengajak Naya ke luar dari taman itu, menuju jalan setapak mengarah ke perkampungan di belakang kompleks rumah.

Setting 5 : Jalan

”Mau kemana kita, Du”, suara Nay memecah, setelah sekitar 100 mereka berjalan. Ia berusaha melepaskan genggaman dari tangan Dudee, tapi terlalu kuat genggaman itu seakan enggan untuk melepaskan. Jadi dibiarkan saja, meski dengan begitu, ia sengaja membiarkan debaran jantung semakin cepat memacu. Meski dengan begitu, ia membiarkan orang-orang melihatnya seakan mereka benar-benar sepasang kekasih. Kekasih? Wow…apa yang ada dalam pikiran Dudee? Apakah ia menganggapku demikian? Kenapa begitu santainya ia berlaku seakan akan begitu keadaannya. ”Engkau penasaran bukan? Dudee memperhatikan Naya. Semburat merah semakin membuat Naya memesona. Upss, ditepiskannya keinginannya untuk menyentuh wajah yang menggoda itu. Berpegangan tangan dengannya sudah merupakan suatu keberanian yang mengherankan. Ya, sebelumnya tidak pernah begini. ”Kita akan ke rumahku. Mungkin juga engkau akan bertemu dengan Ibu, bila ia memang tidak sibuk menghantarkan jahitan ke pelanggan. Tapi intinya, aku ingin memperlihatkan sesuatu. Engkau tidak keberatan kan?” Menoleh ke Naya, Dudee kemudian memastikan Naya mengangguk setuju. ”akan kuantar engkau pulang nanti, ke rumahmu …utuh”, janji Dudee, seperti membaca pikirannya.
Cukup panjang perjalanan menuju rumah Dudee, sampailah mereka.

Setting 6 : Rumah Dudee

”Ke sebelah sini …” digiringnya Naya ke sanggar. Dibiarkannya pintu sanggar terbuka. Menghindari si usil Lara masuk tanpa permisi, jadi dibiarkan saja terbuka. Demi memasuki sanggar, Naya menemukan begitu banyak lukisan menghiasi dinding, juga tersusun rapi di dekat tembok dinding, nampak seperti lukisan baru. ”Baiklah, engkau boleh melihat-lihat dulu. Aku temukan Ibu dulu … tapi… engkau tidak keberatan kan kalau aku mengingatkan Ibu tentang engkau? Aku rasa ia sudah tidak bisa mengenalimu kembali dengan tampilan seperti ini” tanya Dude memaksa sekaligus memandang memuji.
”Tidak, tentu saja tidak. Aku bisa langsung bertemu dengannya; selama ini Ibumu telah banyak membantuku, menjahitkan baju. Aku begitu menyukai hasil jahitannya. Begitu rapi dan benar benar pas dan enak, sesuai dengan seleraku. Jahitan ibumu bisa disandingkan dengan penjahit terkenalpun”.
”hmmm, ada yang berlebihan memuji. Engkau yakin tidak sedang menyenangkan diriku”
”Apakah engkau melihat aku tidak serius mengenai ini?” Ditatapnya Dudee, dengan ekspresi seriusnya.
”Yaaaa, ada kesungguhan disana? Di mata yang indah … tahukah engkau … (upss tidak sekarang), Dudee langsung diam.
”Apa yang akan engkau katakan?” Cecar Naya…”kenapa harus dihentikan…”
”Nantilah kulanjutkan. Sekarang engkau boleh melihat-lihat” Dudepun beranjak ke rumah induk.
Ditinggalkan sendiri, Naya mengitari ruangan sambil setiap kali berhenti untuk mencoba lebih menikmati lukisan-lukisan itu. Upsss… kenapa ada lukisan diriku?? Bentuknya telah sempurna dari sketsa tadi. Penasaran, diambilnya sketsa dari tas tangan, dan coba diperhatikan bolak balik …antara kedua; lukisan dan sketsa… ada goresan pena ….”Teruntuk Naya, pesona yang tidak pernah akan pudar dalam ingatan”. Hmmm, apakah ia kini demam memberikan sanjungan? Apa maksudnya? Aku memang nyaman berada disampingnya. Ya, aku juga pernah merasakan hal sama ketika bersamanya dulu. Dulu. Apakah maksudnya dengan semua ini? Dengan sikap dan perhatiannya selama ini. Apakah Dudee sedang bermain-main dengan perasaanku. Ia memang akan selalu terpatri dalam relung relung hatiku. Aku tidak mungkin bisa berpaling. Dirabanya goresan timbul itu perlahan lahan … ditelurusi dengan jarinya namanya sendiri yang tercantum dalam lukisan itu … matanya terasa berkaca …setittik tetes jauh membasahi pipinya. Uggh, Naya, kenapa begitu? Nuraninya berontak. Dihapusnya air mata itu dari pipinya. Dihembuskannya nafas perlahan-lahan … tenang…tenang.
”ternyata Ibu belum pulang …” Mengagetkan, Dude sudah berdiri tidak jauh dari pintu dan tempatnya berada … Hmmm …apakah ia mengetahui aku tadi sempat bertingkah aneh? ”Bagaimana?” … Lembut Dudee bertanya. ”Aku berusaha menyelesaikannya secepat mungkin. Tidak ada waktu lagi”.
”Mengapa? Apa maksudnya dengan tidak ada waktu lagi” … bertanya Naya.
”Maksudku, tidak ada cukup waktu lagi untuk mengatakan bahwa …” Dudee diam sejenak, tapi berusaha memandang sungguh sungguh ke Naya … ”Naya, apakah benar apa yang engkau katakan pada Lara, engkau masih tetap akan menerimaku, mengingat kebodohanku dulu? Kaget, Naya menundukkan kepala. Ughh Lara, kenapa ia begitu lancang membuka rahasia. Ah ya, hubungan saudara mereka terlalu kental untuk tidak mungkin tidak saling berbagi. Kemungkinan besar itu yang terjadi. ”Kalau yang engkau maksudkan Lara bercerita langsung kepadaku, engkau salah. Aku hanya mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang ia katakan”, tertegun menatap Dudee, Naya membatin – kenapa ia selalu saja cepat membaca pikiranku-. Dengan menguatkan diri, dibalasnya Dudee ”kalau benar kenapa? Kalau tidak benar juga kenapa?” ujarnya sedikit menantang, tapi lemah karena sudah meluap syaraf pertahanannya.
”Ah Nayaa… Nay … terima kasih” diraihnya dua tangan Naya. ”aku senang karena akhirnya aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin kita ditakdirkan untuk bersama. Buktinya, engkau tidak akan berhenti memikirkan aku. Dan engkau tahu, aku tidak akan pernah bisa berhenti memikirkanmu … hingga detik ini… Engkau selalu hinggap dalam mimpi2 malamku. Engkau selalu ada dalam setiap helaan nafasku. Dan itu semakin kuat ketika kita bertemu lagi di malam Gala. Aku yakin kini dengan perasaanku, bahwa aku …aku sungguh tidak ingin kehilangan engkau untuk keduakalinya… bagaimana harus aku katakan … sejujurnya aku tidak ingin mengulangi kebodohanku dulu. Aku tahu ini mungkin terasa begitu tergesa gesa …tapi … tapi, maukah engkau menjadi mendampingi hidupku?”
Semburat merah kembali menghiasi wajah Naya. Tapi kali ini pelupuk matanya tidak terbendung mengaburkan pandangannya ke arah Dudee… Naya menangis. Dibiarkannya dirinya ditarik kedalam rengkuhan mantap Dudee. Dicarinya kedamaian pada bidang dadanya. Dudee begitu bahagianya. Ia mengeratkan pelukannya, pelukan penuh perlindungan seakan memberikan kesan – Naya, aku akan terus menjadi pelindungmu, bersamaku, aku pastikan engkau akan aman – (qiqiqi …gombal nggak siy???). Dibiarkannya air mata Naya membasahi T-Shirtnya.

Setting 7 : Taman

Setelah kejadian di sanggar itu, mereka lebih sering saling bertemu di taman. Di sore hari, karena itu waktu yang luang bagi mereka berdua, setelah Naya selesai dengan konsultasi teknis tulisan akhirnya. Karena di taman itu pula sejarah pertalian mereka terekat. Itu berlangsung selama sebulan. Hingga pada suatu hari, Dudee memantapkan diri untuk segera mungkin melamar Naya menjadi tunangannya. Ini akan semakin mengikatkan diri mereka untuk saling mengisi dan melengkapi perbedaan diantara mereka. Sementara, Dudee semakin sukses dengan lukisannya yang semakin banyak pemesannya, bahkan pemesan dari manca negara. Sementara Naya, hari-harinya semakin disikapi dengan semangat, semangat tinggi untuk segera menyelesaikan pendidikan psikologinya, menunggu tesisnya disidangkan. Ia akan meneruskan mengambil magister management, apapun keadaannya. Pendidikan formal penting, meski tidak untuk sekarang, nanti akan bermanfaat.

Setting 8 : Rumah Naya

Kesepakatan sudah dicapai. Hari ini akan diadakan acara pertunangan : Dudee dan Naya. Keduanya mendapatkan restu dari kedua belah pihak orang tua. Rupanya kebersatuan mereka tidak lepas juga dari peranan Lara dan Naira. Mereka ingin kakak mereka menyatu dalam kebahagian hati … karena menyadari, keduanya seperti belahan jiwa bagi satu dan lainnya. Semua disibukan oleh begitu banyak acara yang sudah dipersiapkan. Seluruh sahabat DuNay, para CF’ers Jakarta hadir, terutama Difa dan Ina. Mereka rajin menghadiri pameran lukisan setiap kali Dudee mengadakan pameran…

Setting 9 : Puncak

Pesta Kebun. Kebun Teh. Pesta yang ada dalam angan angan DuNay …Mereka sudah jauh jauh hari pesan tempat untuk bisa mengadakan acara pernikahan di Wisata Agro Gunung Mas. Pemandanganan Indah, sejauh mata memandang, pegunungan dan jejak-jejak turis lokal pencinta tea-walking akan terasa. Tempat ini dipilih karena letaknya yang cukup strategis, dan ini menjadi melting pot buat kerabat yang tinggal berpencaran di Jawa. Souvenirnya pun unik, teh beda rasa dan rupa berlabel Walini…(qiqiqi, promosi terselubung). Oya, undangan juga diberikan buat sahabat-sahabat mereka di CF loh, terutama perwakilan soulmate, Dukun-cantik-tapi-segen-mandi Aya-Tiya… datangnya kompakkan lo, pake Batik. Promosi batik sebelum diresmikan menjadi hak hasil budaya Indonesia oleh salah satu badan Dunia terkenal. Hahahaha

Setting 10 : Pantai

Hunimuuuuuun. Bali memang bagus, tapi mereka kurang beruntung. Semua hotel sudah fully-booked (Melirik2 Kutu Iler, yakin lo emang udah fully-booked, yakin enggak mau mereka ke Bali wkwkwkwkw). Ini memang bertepatan dengan liburan. Meskipun begitu, mereka akan singgah sebentar di Bali, sebelum lanjut menginap selama seminggu di Pantai Senggigi. Senggigi memang Indah; pantai pasir putihnya, biru kehijauan bening air lautnya, dan terutama banyak makanan khas Nusa Tenggara … inget dong Ayam Taliwang. Singgah di Bali, Dudee dan Naya akan berbaik hati menemui sahabat karib mereka di Bali, Dian & Raffa. Mereka ingin berterima kasih, karena Dian dan juga rekan rekan CF (walahhahhh ahahah) telah mempersatukan DuNay.
Habislah KTT, Khayalan Tingkat Tinggi…

End the Story of DuNay …Dudee and Naya ahahahah… sayup sayup terdengar soundtrack : antara ada dan tiada

khayalan tingkat tinggi, sama lagu yang terdalam (peterpan)

Yang Terdalam, Peterpan

Kulepas semua yang kuinginkan. Tak akan kuulangi. …

Maafkan jika kau kusayangi dan bila kumenanti

Pernahkah engkau coba mengerti, ingatkah kudisini,

Mungkinkah jika aku bermimpi, salahkah tuk menanti

Reff:

Tak kan lama, aku menanti

Tak kan hilang, cintaku ini

Hingga saat, kau tak kembali

Kan kupendam di hati saja….

Kau telah tinggalkan hati yang terdalam

Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa.


Written by : maest Maest on NabloPoMo August-2009

Bookmark and Share

Future Synopsis : Sinet DuNay (Versi KTT=Khayalan Tingkat Tinggi)


Yah, namanya juga khayalan … boleh dung suka-suka! Hehehe … gw mo banyakin yang baek-baek aja.  Tapiiii, kalau yang baek-baek itu masih dianggep umum a.k.a. biasa, soooo … kenapa nggak sekalian dibuat yang jauh lebih baek? Gpp toh?!

a single perfection, a much better ones, not come so easy.  through time, there will be proof, how strong we cope with the life burdens, for a never enough satisfying goal achieved …still, a balance for this precious life needed. cause without warning, sometimes … heart betrays. It is within us that matters, to keep the soul bird alive…no matter it is, for being the worth ones. we love to be the ones, won’t we?

Halllahhhh… apa sih, maest!

Teruskanlah.

Baiklah, ini Sinopsis khusus buat future sinet DuNay; Dudee dan Nayya … SEC (Social Economy Class) dibalik yah; Naya ‘born the affluent’ – sweet n smart, confident n tactful. Dudee ‘ordinary’ – exceptionally, neither unfortunately poor nor dull ones! cool but romantic.

Sekilas profil pemeran utama:

Namanya Naya. Wanita idaman. Kenapa? Kulitnya halus mulus meski tidak putih, hmmm sawo manis lah. Parasnya manis nggak membosankan (lah? …iya; pernah kan lo pada ngeliat cewek cantik cuma enak diliat sekejapan karena bedandan? Atau cewek on average yang makin lama makin keliatan pesona inner-beauty-nya meski tanpa dandan? Nah ini dia, Naya. She is physically and psychologically above-the average dah. Ia ramping. Rambutnya hitam panjang biasa tergerai indah, makin mempesona keindahannya kalau angin nakal sengaja menggoda.

Selalu rapi. Pilihan baju menambah kesan elegan. Kakinya yang jenjang indah selalu terbalut trouser (upsss …nggak melulu hitam loh, meski hitam adalah warna favoritenya …haaahh) seperti sudah terbiasa berjalan dengan high heels. Anggun. Bola matanya besar dan indah, terlebih kalau sedang menatap, hmmm tatapan lembut yang mampu menenggelamkan siapapun dalam keteduhannya. Tulus, itulah yang terpancar dari bola mata yang selalu mengerjap indah dibawah bulu mata lentik asli tanpa hiasan produk maskara seulaspun. Attentive. Ketulusannya terpancar tanpa membeda. Tidak mengherankan Naya sangat disukai dalam pergaulan. Dibalik kelembutannya itu, gurat garis tegas samar menghias wajahnya. Posisi sulung menjadikannya terlihat mandiri.

Ya ya ya … Naya memang sulung dari 3 saudara. Dari keluarga berkecukupan, berpendidikan, demokratis. Ayahnya, Felix Indrayananto, adalah Pilot Penerbangan No.1 di Negeri ini, Ibunya, Anna, Psychologist di RS Negeri No.1 juga. Tertarik mengikuti jejak Ibunya, Naya tercatat Mahasiswi Jurusan Psikologi Semester Akhir. Adek cowoknya, Nando, ngikuti jejak Ayah, masuk sekolah penerbang Luar Negeri, sementara adek bungsunya, Naira, masih duduk di Sekolah Menengah Atas Tahun Ke III, jelang UAN. Hmmm Meskipun tergolong keluarga sibuk, Sabtu tetap berlaku “Me Time” buat masing-masing anggota keluarga, sementara Minggu, wajib ‘family time’.

Bayangkanlah saudara-saudara, betapa idealnya keluarga ini: mereka tetap berhasil membina keterikatan batin meski waktu sedikit membatasi di tengah their busy daily routine activities. Kekompakan terutama terlihat pada hubungan Naya-Naira. Mereka terlihat selalu bersama memulai aktifitas sehari-hari dengan mengendarai sedan kuning kesayangan Naya. Rumah mewah yang tidak begitu besar tapi asri di Kompleks perumahan elite itu akan sepi, begitu mereka keluar dari gerbang kompleks, melintasi dense city center, hunian penduduk yang merebak berhimpitan tak beraturan.

Nah, Dudee dan keluarganya tinggal di daerah hunian penduduk yang berhimpitan tak beraturan ituhhhh. Sulung dari 2 bersaudara. Ayahnya, Setyo Darmawan, membuka usaha bengkel servis mobil di pinggir jalan besar dekat rumah. Ibunya, Laras, menyalurkan kegemarannya menjahit pakaian wanita. Jahitannya sangat rapi dan itu sebabnya banyak digemari oleh pelanggan di sekitar rumah, bahkan sampai menyebar ke kompleks dimana Naya tinggal. Karena semakin berkembang, akhirnya perlu bantuan 2 penjahit, disamping tentu saja dibantu oleh anak perempuan bungsunya, Lara, setelah usai kewajibannya mengikuti kuliah Fashion Design.

Tentang Dudee. Penampilannya sederhana. Bolehlah dibilang menarik. Cuek, itulah yang terkesan; terlebih karena sehari-hari ia terlalu asik dengan dunianya, melukis. Perawakannya lumayan jangkung lah untuk ukuran orang Indonesia yang kebanyakan tingginya rata-rata …hehehe… Rambutnya ikal hitam dengan satuan yang tebal, dibiarkan panjang liar, makanya sering nggak sadar suka garuk-garuk kepala, hmmm ketombeankah? Aneh. Yah, tipe seniman lah… nambah aneh lagi, buat ukuran cowok cuek, kok ya kulitnya tetep terjaga putih bersih meski sehari-hari bergelut dengan cat minyak, dan jarang mandi (lirik2 dukun cekakak di blog)… hahaha nggak ada korelasinya kali warna kulit ama jarang mandi … pan udah anugerah.

Okeh. So, si Dudee itu cuek; ya sikapnya, ya penampilannya….eh kalo cuek nggak perlu narsis or jaim kayak yang lagi trend sekarang kah?… Dengan cat minyak ditangan, ia bisa berjam-jam tak terusik dalam dunianya. Fokus melukis. Tidak terganggu dan tak ada yang berani mengganggu kalau sudah begitu asiik di sanggar lukis yang lumayan menguasai besarnya bangunan rumah itu. Melukis adalah nyawa hidupnya. Bagusnya, ia dapat dukungan 100% dari Ayah yang ngebolehin ambil jurusan seni lukis di IKJ. Nggak sia sia. Dua tahun sudah sejak kelulusannya, Dudee telah berhasil jadi pelukis abstrak yang lumayan dikenal, karena karya lukisnya cukup membanggakan; apresiasi datang bertubi-tubi, menyusul sukses pergelaran megah dan sempurna yang baru-baru saja diadakan di Galery Lukisan Indonesia di pusat kota. Lukisannya mengemuka!.

Keluarga Dude ini, ngerti banget gimana harus bertahan hidup di kota besar. Lah, lihat aja dunia kerja mereka? Tipe yang bisa ciptain lapangan kerja sendiri bukan?. So, mereka tentu akan tetap bertahan karena punya ’pegangan keahlian’ disamping akal pikrian yang bisa diandalkan meski ’suatu ketika’ harus terhempas badai kebangkrutan. Hehehe, harusnya begitu toh? Enggak kayak cerita-cerita yang betebaran sekarang itu loh …cenderung suka mati gaya!

Singkat cerita …

Keluarga Indrayananto dan Keluarga Darmawan akhirnya bertemu, setelah sekian lama disibukkan oleh aktifitas mereka; dalam suatu pertemuan untuk menggalang dana bagi korban musibah bencana alam yang baru saja terjadi di daerah itu.

Sebenarnyalah, dua keluarga itu sudah kenal lama, sejak Naya dan Dudee kecil. Sejak pertama mereka menginjakkan kaki penuhin kewajiban belajar, di sekolah yang sama, dari play group, TK sampai terakhir Sekolah Dasar.

Di acara itulah, Dudee kembali diingatkan kembali ke masa kecil mereka. Hmmm … Dudee membatin … ternyata Naya sekarang semakin manis. Dari jauh, Dudee yang biasanya cuek dengan wanita yang selalu berusaha mencari perhatiannya, dibuat takjub melihat kemanisan, kelembutan dan keramahan Naya! Enggak lama, Naya sadar dan ngerasa ada sepasang mata tajam, setajam elang! mengawasi … berpalinglah ia…

Dua pasang mata saling bertautan.

Satu tertegun.

Satu terpesona.

Dua pasang mata saling merindu.

Satu meragu.

Satu menangkup

Dua pasang mata saling memberi sinaran, getaran … denting      dawaian.

Masih adakah penggalan cerita lama itu?


Mereka berdua menggumam;

Naya …ia begitu mempesona Dudee … ia begitu menarik
Kenangan itu, mengapa kembali melagu?

Debaran ini …mengapa enggan henti?

Masihkah Naya memendam rasa yang sama?

Apakah tatapan Dudee itu ditujukan kepadanya?


Lama. Sulit melepas tatapan dalam tautan. Rindu yang terhempaskan dulu, kini menemukan waktu. Mata Dudee masih bertahan dengan tatapan sama; tajam …mata Naya masih dengan kelembutan yang sama …

Mengapa debar semakin kencang? Mengapa mata ini sulit berpaling?


Nantikan pertemuan selanjutnya … di bukan Empat Mata! Wkwkkwwk… bukti ke-exist-an …DuNay masih exis jugak kan? …paling enggak, the Lovers ones…hehehe …I love u full …

Written by : maest Maest on NabloPoMo August-2009

Bookmark and Share