Future KTT : Script Sinet DuNay

Setting 1 : Malam Gala Lelang Kreasi Di Gedung Kesenian …

“Kak!’ sentakan lembut dibahu cukup membuat Naya tersadar dari pesona Dudee, dan menemukan Naira sudah disampingnya. ‘siapa dia kak?’ …hmmm rupanya ia memperhatikan. “Siapa yang engkau maksud?” Dengan tenang sambil sedikit mengibaskan rambutnya yang legam panjang menatap Naira. “Bukan seperti yang engkau bayangkan. Aku merasa seperti pernah mengenalnya, tapi tidak yakin juga dimana. Sudahlah. Lebih baik kita masuk dan mempersiapkan acara”, Naya mengalihkan perhatian. Tersenyum menatap Naira, dirangkulnya bahu adiknya itu dan berdua mereka berlalu dari pandangan Dudee. Naira rupanya masih penasaran, dipalingkannya sedikit kepalanya untuk menengok ke belakang. Pria tampan itu masih disana! Dan masih tetap memandang mereka. Tersenyum misterius, Naira memalingkan muka dan berusaha sedikit mencuri melihat raut wajah kakaknya. What a surprised! There must be something happened between my sister and that handsome man. But she looks as cool as if nothing happened.
Naya dan Naira disibukkan oleh acara lelang. Acara boleh dibilang sukses; para undangan banyak yang hadir dan satu persatu hasil karya yang masuk daftar lelang berhasil meraih angka berarti untuk disumbangan bagi korban bencana alam. Selama acara itu berlangsung, Naya tidak sempat lagi menyapu pandangannya ke satu persatu para undangan. Pun tidak diketahuinya ketika Dudee mengamatinya dari kejauhan …mata tajam itu masih terus begitu pun ketika Naya lama mengamati lukisannya sebelum akhirnya dilelang. Arrghhh, aku tidak mampu menghapus sosok indah itu dalam bayangan. Melupakan. Betapapun aku berusaha. Berapa tahun lamanya kah itu? Ingatan Dudee melayang ke masa lalu mereka yang cukup indah dan menyenangkan. Indah. Sebelum semuanya harus diakhiri dengan kebodohannya!.

Setting 2 : Kampus. Gedung terlihat megah dan baru dipulas cat.

Jam pergantian kuliah. Nampak jelas kesibukan kampus … semuanya serba bergegas, keluar masuk ruang kuliah, ruang dosen, ruang administrasi. Lapangan luas yang terletak di tengah gedung menjadi ajang hiburan mereka yang berlalu lalang di koridor. Sekilas saja menoleh ke lapangan, tapi tetap masing masing menyibukkan diri dengan urusannya. Termasuk Naya. Ia nampak bergegas menuju gerbang kampus. Ibu Pratiwi mungkin sudah masuk ruang kuliah. Sudah terlambat, tapi tidak mengapa. Tersenyum mengingat-ingat pertemuan terakhir dengan Dosen wanita favoritnya. Sangat menyenangkan berkesempaan dibimbing oleh Dosen pembimbing yang terkenal tegas di kampus dan ia merasa istimewa dalam bimbingannya. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan mendapatkan penjelasan lebih detil lagi tentang penulisan tugas akhirnya. Ini untuk yang terakhir! Baru saja ayunan langkahnya menapak gerbang kampus ketika didengarnya suara memanggil…
“Naya ….Nay” … benar!. Ada yang memanggil. Naya berhenti. Berputar kearah datangnya suara, ia mendapati raut wajah sama yang menatapnya di malam Gala seminggu lalu.
“eee …yaaa? kamu memanggil saya?” (ugghh, terlalu basa basi, jelas hanya ada satu Naya di kampus, siapa lagi yang dia maksudkan).


“Ya. Engkau, sudah tidak ingat lagikah padaku? Oke, aku agaknya perlu mengenalkan diri lagi. Kenalkan, aku Dudee. Setelah melihatmu kembali di malam Gala itu, aku tidak dapat memejamkan mataku demi mengingatmu kembali. Sudah lama, bukan? Sejak pertemuan terakhir kita di acara perpisahan Kelas VI sekolah dasar dulu. Tunggu. Jangan potong dulu kata-kataku. Jujur, aku kangen masa masa itu. Aku masih tetap bisa mengenalimu. Meski engkau kini berubah. Apa khabar, Naya?”
diulurkannya tangan kanan Dudee untuk berjabat tangan … Naya, setengah sadar mendengarkan penjelasan panjang sehingga tidak ingat sedang dalam pengamatan mata yang tajam … reflek, ia mengulurkan tangan untuk menerima jabat tangan Dudee, sambil berusaha mengingat-ingat …. Dudee … Dudee … Semburat merah meronakan pipinya diingatkan oleh masa-masa indah mereka dulu.

Haruskah sekarang aku malu? Dulupun tidak. Dulu aku pernah begitu bersemangat menyatakan betapa aku mencintainya …hahaha. Hal yang berlebihan, mengingat dulu mereka selalu bersama. Entah mengapa, mungkin terbawa suasana perpisahan, ucapan itu mengalir begitu saja. Sudah bertahun lalu, tentu dia tidak akan mengingat-ingat hal itu lagi. Kini diamatinya Dudee … Ternyata Dudee sudah banyak berubah. Makin tenang, meskipun terkesan cuek. Rambutnya yang dulu ikal kini masih tetap, hanya dibiarkannya panjang. Pantas saja aku tidak mengenalinya.

“Engkau semakin manis …lebih manis dari yang pernah ada dalam bayangan samarku” Dudee berkomentar dengan mata memincing menggoda. Tertegun dengan sanjungan yang ia tidak pernah duga akan terujar dari bibir yang merah (hmmm, kepemilikan indah yang salah kukira). Tersadar akan dirinya yang masih terpana dalam situasi yang tak terduga itu …“Ah, hi … sudah lama ya … maaf aku tidak sempat menemuimu di malam itu. Aku begitu sibuk. aku baik-baik saja, seperti yang engkau lihat ini”. Dilepaskan genggaman tangan yang mulai menghangat. Entah sudah berapa lama mereka berjabatan tangan. Pernah sekali dulu ia begitu yakin Dudee akan membalas cintanya …hehehe …cinta monyet yah … kali ini, mereka sudah bertumbuh dewasa… Ia tidak ingin membuat Dudee salah mengerti kali ini. “Apa khabar?” Ujarnya memantapkan diri dengan menatap ramah ke Dude. Senyum Dudee mengembang “baik juga, seperti yang terlihat …. nampaknya engkau tergesa-gesa. Aku tidak akan berusaha menahan.Bagaimana kalau engkau selesaikan dulu urusan kampus, aku akan menunggu di café itu? Bolehkah?” Matanya yang tajam menatap dalam tepat pada retina Naya. Tidak perlu menunggu lama, Naya mengangguk setuju. “Baiklah. Aku memang ada materi kuliah penting siang ini yang tidak boleh kulewatkan dan memang tidak mungkin aku lewatkan. Tidak mengapa bila menunggu lama … mungkin akan sekitar 1.5 jam?”
“Oh, tidak masalah …terima kasih sudah bersedia memberiku waktu. Nah, sekarang, engkau bergegaslah”… saling melempar senyum keramahan, Naya kemudian berbalik, menuju ruang kuliah. Ia tidak berusaha menengok ke belakang. Tapi ia yakin, Dudee sedang mengawasinya.
Di dalam ruang kuliah, meskipun konsentrasi penuh ditujukan pada Ibu Pratiwi, entah kenapa …Naya merasakan semangatnya berlipat. Di cafe, Dudee asiiik membuat sketsa pinsil di selembar kertas putih dengan jemarinya yang nampak cukup piawai menari-nari, membentuk sosok perempuan.

Setting 3 : Sanggar.

Setelah 2 kali mengetuk pintu tanpa ada jawab, Lara berusaha menekan handle pintu sanggar ketika pada saat bersamaan pintu terkuak lebar. Badannya sedikit terhuyung ke sisi dalam sanggar dan hampir saja terjerembab kalau Dudee tidak segera menahan …’kak dudeeeee…’ teriak Lara terkejut ‘. ’makanya jangan asal buka!’ sembur Dudee, cengir kemenangan menguak. ’Sudah. Aku sudah mengetuk pintu. Kupingmu itu kak yang perlu dikail, mungkin … aku sudah ketuk dua kali malah…’ masih kaget, Lara berjengkit. ‘oh, benarkah??!’ atau kau memang sengaja?’ dipandanginya mata terkejut Lara mempertanyakan, serius. Kebiasaan Lara ia sudah hapal benar. Usil. Tapi kemudian dilihatnya mata Lara benar-benar serius kali ini. ‘Ada apa, ayo cepat katakan…aku tidak punya cukup waktu…aku ditunggu’ … sambil berjalan masuk ke rumah utama. ‘oh, nggak ada yang penting deh’ … Lara berbalik dan masuk ke kamarnya. Dudee Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala demi melihat tingkah adik perempuannya.

Setting 4 : Taman Terbuka di kompleks.

Letaknya tidak begitu jauh dari pintu gerbang keluar kompleks tempat Naya tinggal. Sore-sore selalu mengundang pengunjung untuk menikmati suasana menjelang malam. Dari setiap sudut letaknya yang cukup tinggi, semua mata berusaha memanja menikmati matahari senja. Indah, warna lembayung terpancar dari matahari senja yang sedikit berusaha meredupkan sinarannya. Meskipun tidak biasanya datang ke tempat ini, kali ini Dudee berusaha memenuhi permintaan Naya, janji bertemu di taman. Seminggu telah lewat sejak pertemuan pertama mereka di cafe campus. Mereka begitu lebur dalam kisah masa lalu dan saling bercerita tentang kegiatan mereka masing masing selama berpisah begitu lama. Kini, ada sesuatu yang harus Dudee tuntaskan nampaknya, karena mendadak, ia kirim pesan singkat ke Naya untuk menemuinya sore ini di taman.
”Hi … sudah menunggu lama?”
”Oh, hi … hmmm lumayan. Tapi engkau tidak perlu cemas, aku pandai menyibukkan diri. Lihatlah, aku baik-baik saja dannnn tetap tampan, bukan?”, jawab Dudee sambil berdiri dari duduknya. Dipersilahkannya Naya duduk di bangku putih, bangku taman yang banyak dipasang permanen (demi menghindari pencurian ya … hahaha).
”Ugghh … GR-nya. Siapa yang bilang tidak?” pungkas Naya, sambil membungkuk berusaha duduk, tapi kemudian ragu, karena kertas putih yang semestinya menjadi alas duduk membuka sedikit, tertiup angin. Penasaran, diambilnya kertas itu dan dibukanya lebar-lebar. Terkejut. Skesta dirinya sedang asiik dalam pose sedikit menyamping, serius memandang ke suatu arah. Dipalingkannya pandangan dari skesta ke Dudee. ”Inikah sesuatu yang engkau maksud”, penasaran Naya dengan janji Dudee dalam pesan singkat. ”Oh, bukannnn …bukan ini. Ini aku buat sambil menunggumu datang. Engkau boleh menyimpannya bila suka, tapi kini tidak ada lagi kertas untukmu mengalasi bangku itu”.
”Tidak mengapa, aku simpan ini, engkau memang terlalu … ini bagus, kenapa harus dibuat alas duduk. Meskipun engkau mudah saja membuat lagi.” ujar Naya sambil memandang Dudee, kemudian dialihkan lagi ke sketsa. Naya kemudian duduk. Dudee masih tetap berdiri. Diraihnya tangan kanan Naya untuk membuatnya berdiri kembali. ”Ada yang ingin kuperlihatkan. Tapi tidak disini”. Masih menggenggam tangan Naya, Dude mengajak Naya ke luar dari taman itu, menuju jalan setapak mengarah ke perkampungan di belakang kompleks rumah.

Setting 5 : Jalan

”Mau kemana kita, Du”, suara Nay memecah, setelah sekitar 100 mereka berjalan. Ia berusaha melepaskan genggaman dari tangan Dudee, tapi terlalu kuat genggaman itu seakan enggan untuk melepaskan. Jadi dibiarkan saja, meski dengan begitu, ia sengaja membiarkan debaran jantung semakin cepat memacu. Meski dengan begitu, ia membiarkan orang-orang melihatnya seakan mereka benar-benar sepasang kekasih. Kekasih? Wow…apa yang ada dalam pikiran Dudee? Apakah ia menganggapku demikian? Kenapa begitu santainya ia berlaku seakan akan begitu keadaannya. ”Engkau penasaran bukan? Dudee memperhatikan Naya. Semburat merah semakin membuat Naya memesona. Upss, ditepiskannya keinginannya untuk menyentuh wajah yang menggoda itu. Berpegangan tangan dengannya sudah merupakan suatu keberanian yang mengherankan. Ya, sebelumnya tidak pernah begini. ”Kita akan ke rumahku. Mungkin juga engkau akan bertemu dengan Ibu, bila ia memang tidak sibuk menghantarkan jahitan ke pelanggan. Tapi intinya, aku ingin memperlihatkan sesuatu. Engkau tidak keberatan kan?” Menoleh ke Naya, Dudee kemudian memastikan Naya mengangguk setuju. ”akan kuantar engkau pulang nanti, ke rumahmu …utuh”, janji Dudee, seperti membaca pikirannya.
Cukup panjang perjalanan menuju rumah Dudee, sampailah mereka.

Setting 6 : Rumah Dudee

”Ke sebelah sini …” digiringnya Naya ke sanggar. Dibiarkannya pintu sanggar terbuka. Menghindari si usil Lara masuk tanpa permisi, jadi dibiarkan saja terbuka. Demi memasuki sanggar, Naya menemukan begitu banyak lukisan menghiasi dinding, juga tersusun rapi di dekat tembok dinding, nampak seperti lukisan baru. ”Baiklah, engkau boleh melihat-lihat dulu. Aku temukan Ibu dulu … tapi… engkau tidak keberatan kan kalau aku mengingatkan Ibu tentang engkau? Aku rasa ia sudah tidak bisa mengenalimu kembali dengan tampilan seperti ini” tanya Dude memaksa sekaligus memandang memuji.
”Tidak, tentu saja tidak. Aku bisa langsung bertemu dengannya; selama ini Ibumu telah banyak membantuku, menjahitkan baju. Aku begitu menyukai hasil jahitannya. Begitu rapi dan benar benar pas dan enak, sesuai dengan seleraku. Jahitan ibumu bisa disandingkan dengan penjahit terkenalpun”.
”hmmm, ada yang berlebihan memuji. Engkau yakin tidak sedang menyenangkan diriku”
”Apakah engkau melihat aku tidak serius mengenai ini?” Ditatapnya Dudee, dengan ekspresi seriusnya.
”Yaaaa, ada kesungguhan disana? Di mata yang indah … tahukah engkau … (upss tidak sekarang), Dudee langsung diam.
”Apa yang akan engkau katakan?” Cecar Naya…”kenapa harus dihentikan…”
”Nantilah kulanjutkan. Sekarang engkau boleh melihat-lihat” Dudepun beranjak ke rumah induk.
Ditinggalkan sendiri, Naya mengitari ruangan sambil setiap kali berhenti untuk mencoba lebih menikmati lukisan-lukisan itu. Upsss… kenapa ada lukisan diriku?? Bentuknya telah sempurna dari sketsa tadi. Penasaran, diambilnya sketsa dari tas tangan, dan coba diperhatikan bolak balik …antara kedua; lukisan dan sketsa… ada goresan pena ….”Teruntuk Naya, pesona yang tidak pernah akan pudar dalam ingatan”. Hmmm, apakah ia kini demam memberikan sanjungan? Apa maksudnya? Aku memang nyaman berada disampingnya. Ya, aku juga pernah merasakan hal sama ketika bersamanya dulu. Dulu. Apakah maksudnya dengan semua ini? Dengan sikap dan perhatiannya selama ini. Apakah Dudee sedang bermain-main dengan perasaanku. Ia memang akan selalu terpatri dalam relung relung hatiku. Aku tidak mungkin bisa berpaling. Dirabanya goresan timbul itu perlahan lahan … ditelurusi dengan jarinya namanya sendiri yang tercantum dalam lukisan itu … matanya terasa berkaca …setittik tetes jauh membasahi pipinya. Uggh, Naya, kenapa begitu? Nuraninya berontak. Dihapusnya air mata itu dari pipinya. Dihembuskannya nafas perlahan-lahan … tenang…tenang.
”ternyata Ibu belum pulang …” Mengagetkan, Dude sudah berdiri tidak jauh dari pintu dan tempatnya berada … Hmmm …apakah ia mengetahui aku tadi sempat bertingkah aneh? ”Bagaimana?” … Lembut Dudee bertanya. ”Aku berusaha menyelesaikannya secepat mungkin. Tidak ada waktu lagi”.
”Mengapa? Apa maksudnya dengan tidak ada waktu lagi” … bertanya Naya.
”Maksudku, tidak ada cukup waktu lagi untuk mengatakan bahwa …” Dudee diam sejenak, tapi berusaha memandang sungguh sungguh ke Naya … ”Naya, apakah benar apa yang engkau katakan pada Lara, engkau masih tetap akan menerimaku, mengingat kebodohanku dulu? Kaget, Naya menundukkan kepala. Ughh Lara, kenapa ia begitu lancang membuka rahasia. Ah ya, hubungan saudara mereka terlalu kental untuk tidak mungkin tidak saling berbagi. Kemungkinan besar itu yang terjadi. ”Kalau yang engkau maksudkan Lara bercerita langsung kepadaku, engkau salah. Aku hanya mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang ia katakan”, tertegun menatap Dudee, Naya membatin – kenapa ia selalu saja cepat membaca pikiranku-. Dengan menguatkan diri, dibalasnya Dudee ”kalau benar kenapa? Kalau tidak benar juga kenapa?” ujarnya sedikit menantang, tapi lemah karena sudah meluap syaraf pertahanannya.
”Ah Nayaa… Nay … terima kasih” diraihnya dua tangan Naya. ”aku senang karena akhirnya aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku yakin kita ditakdirkan untuk bersama. Buktinya, engkau tidak akan berhenti memikirkan aku. Dan engkau tahu, aku tidak akan pernah bisa berhenti memikirkanmu … hingga detik ini… Engkau selalu hinggap dalam mimpi2 malamku. Engkau selalu ada dalam setiap helaan nafasku. Dan itu semakin kuat ketika kita bertemu lagi di malam Gala. Aku yakin kini dengan perasaanku, bahwa aku …aku sungguh tidak ingin kehilangan engkau untuk keduakalinya… bagaimana harus aku katakan … sejujurnya aku tidak ingin mengulangi kebodohanku dulu. Aku tahu ini mungkin terasa begitu tergesa gesa …tapi … tapi, maukah engkau menjadi mendampingi hidupku?”
Semburat merah kembali menghiasi wajah Naya. Tapi kali ini pelupuk matanya tidak terbendung mengaburkan pandangannya ke arah Dudee… Naya menangis. Dibiarkannya dirinya ditarik kedalam rengkuhan mantap Dudee. Dicarinya kedamaian pada bidang dadanya. Dudee begitu bahagianya. Ia mengeratkan pelukannya, pelukan penuh perlindungan seakan memberikan kesan – Naya, aku akan terus menjadi pelindungmu, bersamaku, aku pastikan engkau akan aman – (qiqiqi …gombal nggak siy???). Dibiarkannya air mata Naya membasahi T-Shirtnya.

Setting 7 : Taman

Setelah kejadian di sanggar itu, mereka lebih sering saling bertemu di taman. Di sore hari, karena itu waktu yang luang bagi mereka berdua, setelah Naya selesai dengan konsultasi teknis tulisan akhirnya. Karena di taman itu pula sejarah pertalian mereka terekat. Itu berlangsung selama sebulan. Hingga pada suatu hari, Dudee memantapkan diri untuk segera mungkin melamar Naya menjadi tunangannya. Ini akan semakin mengikatkan diri mereka untuk saling mengisi dan melengkapi perbedaan diantara mereka. Sementara, Dudee semakin sukses dengan lukisannya yang semakin banyak pemesannya, bahkan pemesan dari manca negara. Sementara Naya, hari-harinya semakin disikapi dengan semangat, semangat tinggi untuk segera menyelesaikan pendidikan psikologinya, menunggu tesisnya disidangkan. Ia akan meneruskan mengambil magister management, apapun keadaannya. Pendidikan formal penting, meski tidak untuk sekarang, nanti akan bermanfaat.

Setting 8 : Rumah Naya

Kesepakatan sudah dicapai. Hari ini akan diadakan acara pertunangan : Dudee dan Naya. Keduanya mendapatkan restu dari kedua belah pihak orang tua. Rupanya kebersatuan mereka tidak lepas juga dari peranan Lara dan Naira. Mereka ingin kakak mereka menyatu dalam kebahagian hati … karena menyadari, keduanya seperti belahan jiwa bagi satu dan lainnya. Semua disibukan oleh begitu banyak acara yang sudah dipersiapkan. Seluruh sahabat DuNay, para CF’ers Jakarta hadir, terutama Difa dan Ina. Mereka rajin menghadiri pameran lukisan setiap kali Dudee mengadakan pameran…

Setting 9 : Puncak

Pesta Kebun. Kebun Teh. Pesta yang ada dalam angan angan DuNay …Mereka sudah jauh jauh hari pesan tempat untuk bisa mengadakan acara pernikahan di Wisata Agro Gunung Mas. Pemandanganan Indah, sejauh mata memandang, pegunungan dan jejak-jejak turis lokal pencinta tea-walking akan terasa. Tempat ini dipilih karena letaknya yang cukup strategis, dan ini menjadi melting pot buat kerabat yang tinggal berpencaran di Jawa. Souvenirnya pun unik, teh beda rasa dan rupa berlabel Walini…(qiqiqi, promosi terselubung). Oya, undangan juga diberikan buat sahabat-sahabat mereka di CF loh, terutama perwakilan soulmate, Dukun-cantik-tapi-segen-mandi Aya-Tiya… datangnya kompakkan lo, pake Batik. Promosi batik sebelum diresmikan menjadi hak hasil budaya Indonesia oleh salah satu badan Dunia terkenal. Hahahaha

Setting 10 : Pantai

Hunimuuuuuun. Bali memang bagus, tapi mereka kurang beruntung. Semua hotel sudah fully-booked (Melirik2 Kutu Iler, yakin lo emang udah fully-booked, yakin enggak mau mereka ke Bali wkwkwkwkw). Ini memang bertepatan dengan liburan. Meskipun begitu, mereka akan singgah sebentar di Bali, sebelum lanjut menginap selama seminggu di Pantai Senggigi. Senggigi memang Indah; pantai pasir putihnya, biru kehijauan bening air lautnya, dan terutama banyak makanan khas Nusa Tenggara … inget dong Ayam Taliwang. Singgah di Bali, Dudee dan Naya akan berbaik hati menemui sahabat karib mereka di Bali, Dian & Raffa. Mereka ingin berterima kasih, karena Dian dan juga rekan rekan CF (walahhahhh ahahah) telah mempersatukan DuNay.
Habislah KTT, Khayalan Tingkat Tinggi…

End the Story of DuNay …Dudee and Naya ahahahah… sayup sayup terdengar soundtrack : antara ada dan tiada

khayalan tingkat tinggi, sama lagu yang terdalam (peterpan)

Yang Terdalam, Peterpan

Kulepas semua yang kuinginkan. Tak akan kuulangi. …

Maafkan jika kau kusayangi dan bila kumenanti

Pernahkah engkau coba mengerti, ingatkah kudisini,

Mungkinkah jika aku bermimpi, salahkah tuk menanti

Reff:

Tak kan lama, aku menanti

Tak kan hilang, cintaku ini

Hingga saat, kau tak kembali

Kan kupendam di hati saja….

Kau telah tinggalkan hati yang terdalam

Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa.


Written by : maest Maest on NabloPoMo August-2009

Bookmark and Share

21 comments on “Future KTT : Script Sinet DuNay

  1. Maeeeee gw suka di setting rumah dude…Dudeeenya Mupeng gayak jadul… *dialognya jadul n gombaaaaal abiezzzzzz wkkwwkkwk* gw pengen tahu kalo dibuatin film pasti indah yah… udah pasti aktingnya bagus.. settingnya di berbagai tempat di Indonesia..hmm pagi2 udeh ngayal…hahahha

    btw, setting 10 itu.. tinggal di Bali tapi fully booked yah?? Yahhh Ampunnn kan kamaaarrrr gw adaaaaaaaa…. viewnya indah kok..cocok buat hunimun.. hamparan sawah..sampai jauh memandang.. bakal liat pesawat yang mondar mandir di bandara Ngurah Rai.. ga kedengaran suaranya ..kejauhan.. tapiii… cahayanya ibarat hujan meteor berwarna warni… *hihihihi …*.. tapi gw boleh dunk jadi room service tiap hari… tiap jam boleh… cuman jepret2 duank ..terus dishare… share kemupengan…hihaihaia…

    aduhhh… gw parah banget kalo baca tulisan… ngayalnya sampek sinting.. makanya dari dulu emak gw waktu gw SMP… ga ngasih baca Anita… atau novel2.. visualisasinya bikin gw suka sinting sendiri… hahaha..

    Mau Lanjut nonton BBF ntar ah… terus city hall..terus ww… terusss..apa terusnya huni fifih?? kwkwkwwkwk… tengkyu somat!!!

    • Really??? aha, gw tau kenapa lo suka setting rumah dudee, ada mupengna khan? wkwkwkwkw…ampun, gw juga suka. watt mata gw masih tinggi, jd masih semangat dikejar deadline …drpd dikejar golok?? Kan ga asiiik.

      Gw bilang hotel2 di Bali udah fully-booked, kan biar DuNay bakalan nginep di rumah lo huni Dian, masih ada yang kosong khan, yang emang sengaja dipersiapin buat disewakan ke mereka2 yang mo hunimun tp ga dpt tempat? wkwkwkw…mantaaappp, hotel berbintang rumah, berhamparkan karpen hijaunya sawah … terus gw coba inget2, lo pasti masih usaha buat deket2 ke DuNay …kali ini lo mau nyamar jadi apa? jd sabun emang masih mungkin? semisal aja, kalo jd room service ga memungkinkan buat jepret2?? hihihi… jadi aer aja deh, segeerrrrr…

      PR dr d’mupengers banyak yah: ada BBF, City Hall, World Within …nah nah kalo mo liat Ji Oh (Hyun Bin) di film terakhir itu, lo kudu juga liat My Lovely Sam Soon … Hyun Bin adalah 1 orang, tapi bener-bener beda tampilan… gw aja sampe sekarang masih ga percaya … juga si Kim di City Hall … memang benar2 pro mereka… *Melirik Fifi, jd terkenal mana Ji Oh sama Walikota Wei Lai yang sebenernya, luv?*

  2. @ maest..debaran jantung ku semakin keras,khayalan tingkat tinggi ke dunay semakin menjadi jadi…aaaaahhhgr..seanadainya saja semua ini menjadi nyata walau hanya dlm sinet….terobati pasti rindu pada DuNay..
    maest…kirim ajah ke sinemart ceritanya…dan sekalian jadi astrada…pasti seru..
    n.oke hasil nya…sungguh maest mema srius lho!

    • hihihi Mema, thanks yah. Ini sebatas blog ajah, buat having fun …drpd garingggg! ya nggak sie? Jadi, kenanggg…kenanglah … selagi masih bisa mengenang-ngenang…kita doakan aja, bagi kebaikan DuNay, semua akan indah pada waktunya …huahahaha, kalau nggak, kenapa banyak yang meyakini kebenarannya, maka kata itu sering terulang-ulang …hehehe … semangat! …hentikan debaran jantungmu itu, cool…cooling down…take a deep breath, release it slow…slowly … yesssss, that’s right.

  3. Asyiik, Mae ngelanjutin kisah Naya n Dudee…i love it…but Mae, mana setting honey moonnya??..gw ampe ngulang2 bacanya neh..koq tetep kgk ada???..brarti crita lo kgk lengkap ahh…ayo tambahin Mae…gw penasaran neh hahaha…

    • Asiiiikk? Thanks yah. Sorry nggak bisa menebarkan virus kemupengan di akhir setting, gw udah kurang dari 5 watt *ternyata gini yah jdnya kalo lagi dikejar tayang? … tayang blog huahahaha* Lo kenapa mesti mengulang-ulang ngebacanya, luv …lah emang enggak tervisualisasikan dengan kata-kata …keburu ngantukkkkk…

      Mestikah ada setting ituh?? KTT lagi?… *Melirik Satrya-Aya …jatah gw udah penuhi kuota kata2 kah?*

  4. Mae…lanjuuut…yes, yes…I do hehehe…
    tenang, di bali kan ada dian/raffa… tolong ya, sediain kamar honeymoonnya hahaha…awas loh, jgn intip2….pih, always deh mupeng..puasa cantik!!!🙂

    • Yesss, Miss Cool Difa …
      Ya, tadinya gw mo elaborate setting kamar hunimunnya Dian or Raffa … lumayan khan, murah meriah, demi DuNay, lo taulah …apapun bakalan mereka lakuin *Melirik Kutu Iler n Emaknya Aya — sumber pulus nih, bisa jd ajang pelunasan hutang piutang yang masih outstanding*

      Heeh, puasa2 …dilarang menciptakan ke-mupeng-an …*hehehe, gw khayalnya kan sebelum sahurpun*

  5. Maest, aku suka ceritanya…:):). Bagaimana kalau kata “engkau” diganti “kamu”? Kayaknya lebih enak kedengarannya…
    Lagunya… ngena banget yaa… hehehe….pas untuk kita2 yang kangen DuNay.
    Akhirnya Mae… cerpennya ada juga… Thank’s yaaa….

    • Miraaa, thanks a lot …:) …*nggak puguh deh, ini kayak cerpen apa bakal sinet* ahahaha… yg penting enjoy and having fun, Mira.

      Bagaimana kalau kata “engkau” diganti “kamu”? Kayaknya lebih enak kedengarannya……
      Kenapa pake kata “engkau” despite “kamu?”…rasa katanya jd ‘lebih personal/closer antara dua insan yang saling cinta’ … “engkau dan aku”. Sementara, kalau dalam bahasa inggris kan seringnya between you and me, or you n I …sering dipake buat lirik2, emang nggak lebih berwarna dan gurih sebanyak warna dan gurihnya bahasa Indonesia… kamu, kesannya gimanaaaa gitu …menuding! kamuhhh… padahal kan kalau antara engkau dan aku …ada kasih dan sayang …hehehe…

      Tapi semuanya terserah aja deh kalau mo digantik, *Melirik Kutu Iler, doi n soulmate kan yg berkuasa ngedit2 yang udah diposting*

  6. Yang Terdalam,
    hmmm, gw suka banget! Ini menjadi kenangan terindah Peterpan yang sebentar lagi mau ganti nama …soalnya masa validasinya udah habis … tentunya buat DuNay lovers, ya kan Mira?? Kan engkau bilang, syairnya ngenak banget. hehehe

    …kulepas semua yang kuinginkan … tak akan kuulangi …*Kasetnya gw puter ulang terus, tapi beruntungnya, nggak kusutttt*

  7. Kk maest,,blh loh seriusan d kirim k sinemart,,buat refrensi mreka,
    Btp kta amat sgt menginginkan mreka kmbali,,
    Kk emg berbakat bgt222 dah,,d lanjut lg bsa ga kak??,,ampe punya anak gtu,,he he,,
    Biar ngayal nya lanjut jugak,,

  8. hmmm, btw, hari ini Ultah RCTI Okeh ya …HAPPY BIRTHDAY, RCTI OKE …MET MERAYAKAN ULTAH KE-20 YANG SEMENGGAH-MENGGAHNYA …SEMOGA BERJAYA TERUS DI BARISAN TERDEPAN BROADCASTING INDONESIA.

    OJO LALI YO, SINET DUNAY, DUNAY…BUKAN DU OR NAY …TAPI DUNAY. TENGKYU SOMAT HUAHAHAHA…

    Oke, gw skrg pengen nonton how spectacular is the HUT RCTI ke-20 …
    Malam semuaaahhh…
    Luv u full.

    • cie cie … spektakular itu speak speak?? terus …kenyataanya …”nothing”. wahhh, biasanya ada rerun tuh kalau penasaran. Ga liat, katanya ada debo, aku ketelatan liatnya,

  9. hemmmmmmmm…smw setting yang menguntungkan dunay bagus deh
    daripada yang jahat2an kaya cilia yang gak jelas gitu.lo bisa diajuin ke sinemart ja yar dibikin sinetronnya.

    • wuidih…ga nyadar ada pendatang nyempil dimari…hi Imam …semua setting menguntungkan?? yg happy2 aja maksudnya kan? hahahah …disini emang tempat mupeng2 geje soal dunay …hahaha, sambil nunggu sinetron baru dan beda mereka muncul… aiiihh, nurut lo, SinemArt bakal melirik ini?😀 …wahhh, liat aja klo brani trima tantangan …bisa ga DuNay menuju cerita gaya film tapi di tipi??? (Melirik FTV) …dgn cerita KTT ini…hahahah *mimpi dulu ahhh sambil b’harap… Sinetron DuNay, Pleaseeeee… yg baru dan beda*

      • darleng udah gw buka semua komen di blog ini..dari post sampai page..:D gw ingat cerita lo… ini bagus jadi ide cerita buat DuNay..🙂
        gw komen di sini ajah..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s